its my blog :)

Saya menemukan 'diri'saya ketika saya menulis.
Menulis adalah sebuah kekuatan :)

Minggu, 26 Januari 2014

Hijrah Part I

Assalamu'alaykum ukhti shalihat :) Ketika pertama kali mengetik kata "Hijrah" di kolom judul, otakku langsung berhenti pada sebuah peristiwa pada zaman dahulu. Iya, peristiwa pindahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Yastrib atau yang sekarang disebut Madinah. Dulu, pemahamanku tentang hijrah hanya sebatas sebuah perpindahan. Move on lah katakan. Tapi semakin kesini, aku semakin tau bahwa hijrah itu luas sekali cakupannya. Iya, tak hanya sebatas perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, tapi juga dari satu keadaan/kondisi ke keadaan lain. Tentunya hijarah ini mengandung makna yang positif. Kalo perpindahannya malah membuat seseorang lebih buruk, bukan hijrah namanya. Ketika ada yang bertanya bagaimana perjalanan hijrahku? Aku perlu mengulik lebih dalam lagi. Karena rasanya setiap hal yang ku lakukan belum bisa dikatakan hijrah sepenuhnya. Tapi baiklah, saya akan mencoba sedikit berbagi pengalaman saya.Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua. Awal hijrah saya dimulai dari Ramadhan sekitar 3 tahun yang lalu, saya lupa tanggal tepatnya. Hari itu saya memutuskan untuk memulai berhijab. Hari itu saya mengakhiri pergulatan batin saya. Iya, setelah sekian lama saya bergulat dengan hati dan perasaan, saya membunuh semua keraguan saya, dan dengan khimar dan pakaian panjang yang seadanya saya memutuskan untuk berhijab. Diawal keputusan saya tersebut, saya sedikit bahagia karena dihari yang sama sahabat terdekat saya juga memutuskan untuk berhijab. Saya jadi punya kekuatan untuk memulai hari itu. Beberapa hari sebelumnya saya terebih dulu izin dengan Aba. Alhamdulillah beliau merespon dengan baik. Mama memberi modal 100 ribu untuk saya memberi beberapa helai khimar. Bayangkan 100 ribu hanya dapat berapa? :') Hari itu, dengan sebuah khimar yang seadanya (hanya menutup dada :'D) saya datang ke sekolah. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi teman-teman saya saat itu. Dari awal masuk gerbang hingga ke kelas saya menemukan berbagai macam ekspresi dan tatapan mata. Ada yang merespon dengan baik, ada pula yang memandangi saya dengan tatapan sinis. Saya hanya bisa menggenggam tangan sahabat saya dengan erat hari itu. Kami sama-sama saling menguatkan. Alhamdulillah, banyak support dan respon yang baik dari teman dan guru-guru saya. Do'a pertama saya hari itu adalah semoga Allah mengistiqomahkan saya dan sahabat saya untuk berhijab. Saya akui awal saya berhijab hingga beberapa 2 tahun kemudian, saya masih berhijab seadanya. Membungkus aurat saya, bukan menutup. Memakai baju yang seadanya. Terkadang masih memakai jeans walaupun saya lebih sering menggunakan rok. Khimar yang masih tipis dan tembus pandang, masih sering dililit dan tidak menutupi dada. Dengan sanggul punuk unta yang masih menghiasikepala saya,kaki yang belum tertutup kaos kaki. Dan itu berjalan cukup lama. Hal itu karena ketidaktahuan juga mungkin belum adanya hidayah dari Allah. Untuk sementara waktu itu saya hanya berhijab seadanya, dengan kualitas ibadah yang juga masih seadanya (bahkan sampai sekarang :'( Hmmm, Segitu duu ya ceritanya. Lain waktu nanti disambung. Jazakillah. Wassalamu'alaykum :')

Rabu, 27 November 2013

Sebuah cerita.

Selamat siang, akhir November :) Ini hari kesekian aku berada disini. Di ruangan serba putih yang masih beum familiar di mataku. Iya,ini memasuki bulan ketiga aku menyandang gelar sebagai mahasiswi kebidanan di Poltekkes Kemenkes Palembang. Sampai detik ini aku masih berusaha menikmati peranku di kelas ini. Masih mencari-cari siapa yang tepat untuk ku jadikan partner dan masih memilih alasan yang tepat untuk mengatakan 'aku betah disini'. Jangan pernah berpikir kampusku ini seperti kampus lain pada umumnya. Kami tak memakai pakaian sesuka hati kami. Kami juga tak bisa datang semau kami. Apalagi bertindak seingin hati kami. Tidak begitu. Di kampus kami ini semua masih serba diatur. Bagi kami penduduk baru yang masih seumur jagung, kami harus memakai pakaian ala sales dengan celana dasar hitam dan baju kemeja putih polos dilengkapi dengan sepatu pantofel dan kaos kaki panjang selutut. Plus jilbab katun dan harnet bagi yang tidak berhijab. Satu lagi yang mungil dan tak boleh ketinggalan, name tag yang harus selalu 'nangkring' manis di dada sebelah kanan kami. Aku agak sedikit tak nyaman dengan ini, bukan karena sering dipandang aneh dan seperti sales, tapi aku tak betah memakai celana yg kesannya agak ketat dan hijab yang seadanya. Aktivita perkuliahan dimulai pukul 08.00 WIB pagi. Tapi bagi saya yang masih tidak menetap diasrama, saya sudah harus siap-siap dari jam 07.00 pagi. Masih harus berdiri sekian menit menunggu angkot dan harus bergulat beberapa waktu dengan macet dan riuhnya aktivitas jalan raya. Oke abaikan itu semua karena kenyataannya tidak seribet itu. Aku selalu diantar dengan manis oleh sosok spesial yg biasa ku panggil 'aneng'. Baiklah, abaikan semua tentang itu. Kenyamanan ku pagi ini terusik dengan satu hal. Bisik-bisik teman menyambut datangnya SBMPTN. Tiga bulan disini, aku sudah melupakan segala hal yang berbau tes dan sekarang aku kembali diusik tentang itu. Iya, banyak dari temanku yang ternyata mempunyai rencana untuk kembali mengikuti seleksi masuk PTN itu dan hengkang dari kampus ini. Aku diam. 'Lalu bagaimana dengan aku?' Aku memang harus mengakui, sampai detik ini perasaanku masih abu-abu. Sekali lagi aku masih menemukan alasan untuk bilang aku betah disini. Tapi jujur saja itu tak menjadikan alasan untukku berpikir akan hengkang dari sini. Ada banyak alasan mengapa aku tak punya rencana sedikitpun untuk ikut tes SBMPTN, Alasan pertama, aku pernah gagal dulu. Ketika SMA, aku pernah pindah dari sebuah SMA karena alasan tak betah. Aku tentu tak ingin mengecewakan mereka untuk kedua kalinya. Alasan kedua, saya benar-benar sudah malas untuk buka buku dan kembali berurusan dengan matematika, fisika dan kimia. Maklum saja, 3 bulan disini aku tak menemukan rumus-rumus dan angka-angka apalagi reaksi kimia yang bikin pusing. yang paling penting, entah kenapa rasanya aku sudah mencintai dunia kebidana ini.Aku sudah akrab dengan kata 'kehamilan, ibu hamil, nifas,bersalin' dan bla bla yang menyangkut profesiku nanti. Aku sudah nyaman dengan ini dan punya banyak khayalan tentang profesiku nanti. Aku rasanya sudah siap untuk menjadi sahabat wanita, bidan desa dan pendamping ibu hamil apapun dan bagaimanapun resikonya nanti. Karena profesi itu tidak melulu tentang penghasilan, tapi lebih kepada pengabdian dan juga amal. Dengan masyarakat juga dengan Allah :")

Jumat, 22 November 2013

That's why you go

Baby want you tell me why there is sadness in your eyes? I don't wanna say goodbye to you. Love is big illusion as you try to forget. But there's something left in my head. You're the one who set it all. Now you're the one who make it stop. I'm the one who's feeling dust right now. Now you want me to forget every little thing you said But there's something left in my head. I want forget the way you're said The feeling so strong will lasting for so long But I'm not one your heart is missing That's why you go away I know You were never satisfied, no matter how I try Now you want me to say goodbye to me

Sabtu, 05 Oktober 2013

rindu..

Aku menarik nafas panjang sebelum aku memutuskan untuk memainkan jariku diatas keyboard ini.
mencoba menenangkan hatiku yang bercampur aduk tak tak ku mengerti.
Ada berbagai macam rasa di sana. Iya, dihatiku.
Tapi rindulah yang mendominasi.
Rindu kepada sosok manis di sebrang pulau.
Rindu kepada dara istimewa diujung Jawa yang namanya telah bertahta cukup lama.
Iya, Dia yang pernah ku sayangi atas nama Allah.
Dia yang padanya telah ku serahi kasih sayang setulusnya.
Apa kabar kamu,dik?
Baik-baik saja kan? :)
Ah, harusnya aku tak bertingkah sok galau dengan terus menerus mengumbar diksi nan sedih tentangmu.
Hanya saja aku tak bisa berbuat apa-apa karena beginilah aku adanya.
Rasa ini memang ada dan selalu berkuasa.
Aku tau kita telah mengusaikan semuanya.
Menamatkan cerita kita pada episode yang tidak kita hendaki.
Kita telah menyudahi kita. Menutupnya dengan drama pedih nan elegi.
Tapi taukah kau,sayang?
Aku tetap merindumu.
Aku tetap membaca apapun tentangmu yang masih ada dihandphoneku
Aku masih menjadi stalker setiamu.
Aku masih menyelipkan harap ada pesanmu yang nangkring di handphoneku walah hanya sekedar satu sata berucap 'bunda'.
Ah aku benar-benar rindu.
Hingga aku tak bisa menguasai hatiku sendiri.
Hingga aku tak bisa meyakinkan hatiku bahwa aku bisa mengusir perasaan bodoh ini.
Kamu tau bahwa aku adalah orang munafik yang begitu bisa menyimpan semua rasaku dan membungkusnya dengan keacuhan?
Kamu selalu mengungkit-ungkit itu dulu. Ingatkan?
Tapi hari ini, detik ini aku benar-benar tak bisa menjadi aku yang angkuh.
Aku benci ketika harus mengumbar rasa kepada orag lain.
Tapi kali ini aku benar-benar kalah.
Aku rindu kamu dek. Benar-benar rindu.
Masih ku inginkan pertemuan denganmu walau untuk memberi satu pelukan.
Masih ingatkah? Masih ku inginkan kamu nanti kuliah disini dan tinggal bersamaku.
Kamu tau dek? Bunda hanya hanya satu tahun di asrama? Nanti kita bisa satu rumah jika kamu kuliah disini. Bunda bisa nemenin kamu dek :')
Ah sylvi aku rindu..
Allah :'(

Kamis, 03 Oktober 2013

Kabar Manis di awal Oktober..

Pagi ini langit agak sedikit murung. Hawa dingin masih saja mengusap pelan kulitku. Langit masih manis dengan warna putih dengan aksen awan tipisnya.
Suasana yang begitu pas untuk bermain-main dengan kasur dan segala perlengkapannya :D
Pagiku  masih diawali dengan manis. Bangun dan beraktivitas seperti biasa.
Hingga satu kabar manis membuat hatiku berwarna hari ini.
"Aku udah dilamar sy. Insyaa Allaah acaranya segera nyusul" satu pesan dari salah satu orang tersayang nangkring manis di pesan facebookku.
Aku tersenyum bahagia. Hatiku meletup-letup tak jelas.
Ada bahagia juga rasa lain.
hmm..aku irii.
Iyaa, bahagianya bisa sesegera mungkin menyempurnakan separuh agama bersama orang tercinta.
Bahagianya bisa mendengar dia yang disayang melafadzkan janji suci setia berlandaskan cinta.
Bahagianya ketika dia yang di cinta duduk manis di sebelah sebagai pendamping kita di pelaminan.
Bahagianya ketika shalat kita ada yang mengimami, mencium tangannya dan dibalas dengan kecup lembut dikening.
Ah bahagianyaa..
Hatiku dari tadi tersipu. Berbagai slide indah tentang pernikahan bermain-main di otakku.
Ah Aba..
Andai aba mengerti. Panggilan Allah untuk segera menyempurnakan separuh agamaNya sudah dari dulu datang.
Andai Aba mengerti betapa inginnya hati ini merajut cinta dalam mahligai yang halal.
Betapa inginnya nanda dibimbing oleh seseorang yang telah Aba percaya untuk menjaga nanda.
Izinkan Ba..
Izinkan nanda untuk menjadi istri shalihah dari seorang suami.
Izinkan nanda merajut mahligai kehidupan dalam kehalalan.
Karena hanya itu sesederhananya bahagia.
Tentang kuliah dan pendidikan, tak perlulah khawatir.
Nanda berjanji untuk menyelesaikan semuanya dengan baik.
Dan Nanda akan tetap menjadi gadis kecilmu yang manis.
Gadis kecil yang akan selalu membuatmu bangga.
Percayalah,Ba. Izinkan yaa :)

Minggu, 29 September 2013

:"

Pagi yang kurasa masih saja hambar. Bangun dan membuka mata dengan biasa.
Masih dengan view yang sama. Cat dinding yang (masih) tidak familiar di mataku.
Lalu ada satu sosok yang membuatku tegar. Sosok lembut penuh cinta yang selalu ku sebut dalam doa. Dia yang berharga dan begitu aku cinta.
Mama.
Dari senyumnya aku menemukan kekuatan untuk menurunkan kakiku dari atas ranjang kemudian berdiri dan memuai semua aktivitas.
Semuanya memang telah menjadi candu. Aku tak akan bisa bangun tanpa melihat senyumnya.
Tulisan ini tidak hanya akan menceritakan pagiku, atau hari-hariku di kamar kost yang begitu menjemukan. Ini hanya catatan singkat sebagai pengobat hati.
Kamu akan menulis tentang apa,vie?
Sisi hatiku bertanya.
Entah aku tak tau. Ini rasanya campur aduk.
Aku rindu Abaku. Aku rindu rumah sederhana penuh cinta di Sungsang.
Aku rindu kamarku dengan begitu banyak boneka dari orang-orang terkasih.
Aku rindu saudara-saudara tercintaku.
Rindu jagoan-jagoan kecilku.
Ah..
Tetes-tetes bening sudah menjejal pelupuk mataku. Meminta untuk dikeluarkan.
Aku menahannya dengan sangat.
Tak ingin ruangan bercat putih dengan 39 penghuninya ini melihat air mataku.
Aku rindu sekali.
Rindu dengan suasana rumah.
Aku rindu akhwat fiillah.
Saudara seperjuangan menebar cinta di bumi Allah.
Taukah unii,
Disini tak ada jilbab panjang. Disini tak ada baju longgar.
Bahkan kuliah pun harus pakai celana dasar yang kelihatan ketat.
Disini tak ada kajian. Tak ada kesejukan.
Tak ada saudara-saudara penyejuk hati yang bisa menguatkan untuk tetap istiqamah menebar cinta di bumi-Nya.
Cek Ria maaf..
Aku lupa 1 juzz yang dulu tiap hari kusetorkan padamu.
Bicik maaf..
Aku jarang berlatih tajwid.
Allah maaf..
Aku begitu jauh dariMu. Aku hina. Lemah. iya semuanya.
Aku.. :"(


Jumat, 27 September 2013

Begini adanya..

Lagi, ketika aku mengulang rutinitasku untuk selalu memantaumu walau hanya lewat goresan kata-kata yang kau tulis di media sosial, aku menemukan sekeping hatiku terluka.
Aku kembali menemukan kenyataan bahwa ceritamu bukanlah tentang kita. Bukan tentang aku, kau dan dia.
Tidak! Kau sama sekali telah meniadakan peranku dan hanya membuat drama elegi tentang kau dan dia.
Kau hanya bersenandung tentang cerita kalian yang tak ku mengerti.
Lalu aku siapa?
Apa aku ada hanya untuk menjadi pemeran pelengkap dalam cerita kalian?
Lalu berganti peran menjadi antagonis bagimu ketika akupun membuat sendiri cerita tentang ku dan dia?
Ah, sayang..
Lalu bagaimana dengan rasa sayang, rasa cinta yang telah kau tanam dihatiku?
Tidak kah kau menganggap itu ada?
Tidakkah kau mau mempertanggung jawabkannya?  Minimal dengan membalasnya saja kau tak maukah?
Kau yang selalu ku sayang dengan segenap rasa yang kumiliki, beginikah caramu?
Ah harusnya aku tak lagi mencari-cari tahu tentangmu.
Tapi aku tak bisa. Naluri sayangku selalu menuntut untuk sekedar tau kau baik-baik saja.
Aku selalu ingin menghidupkanmu kembali dihatiku walau hanya lewat tulisan-tulisan tanganmu.
tapi ternyata begini adanya?
Cinta lebih berkuasa dibanding persaudaraan.
Tidak ingatkah kau aku pernah mencintaimu sebegitu tulus. Tapi begini caramu?
Dan ketika tetesan airmata ini deras menghujaniku, telah ku tekadkan untuk benar-benar mengubur tentangmu.
Tidak,sayang.
Aku tidak marah.
Aku tidak sedang membangga-bangggakan
Aku hanya ingin membela hatiku.
tapi sudahlah, lupakan.
Waktu akan menghapus semuanya. Termasuk kamu.